Kamis, 02 Desember 2010

LELAKI AHLI SURGA

Anas bin Malik bercerita, saat sedang duduk bersama sahabat, Rasulullah berkata, “Sebentar lagi, salah satu ahli surga akan muncul di hadapan kalian.” Tak lama, seorang laki-laki dari kaum Anshar muncul dengan sisa air wudhu masih menetes dari janggutnya. Ia menenteng terompah di tangan kirinya.
Hari berikutnya, Rasulullah mengulang perkataannya dan orang itu kembali melintas seperti pada kali pertama. Di hari ketiga, Rasulullah mengulang perkataannya, dan kejadian itu kembali terulang.
Mendengar ucapan Rasulullah, Abdullah bin Amr mengikuti lelaki yang dimaksud Rasulullah lalu berkata kepadanya, “Aku bertengkar dengan ayahku, aku tidak akan menemuinya tiga hari, apakah engkau berkenan memberiku tempat menginap?” lelaki itu menjawab, “Silahkan, dengan senang hati.”
Abdullah bin Amr pun menginap di rumah lelaki itu hingga tiga malam berlalu dan Abdullah belum melihat dari laki-laki itu melakukan amal yang disebut sebagai penghuni surga. Sehingga Abdullah memberanikan diri bertanya, “Sudah tiga hari disini, aku tidak melihatmu mengerjakan amal yang membanggakan. Mengapa Rasul menyebutmu sebagai salah satu calon penghuni surga?”.
Lelaki itu menjawab, “Aku memang tidak melakukan amalan-amalan yang istimewa, tetapi sebelum tidur, aku mengingat kesalahan-kesalahan saudaraku seiman, lalu aku berusaha untuk memaafkannya. Aku hilangkan rasa dengki dan iri terhadap karunia Allah yang diberikan kepada saudaraku.”
Setelah mendengar itu, Abdullah berkata, “Ya, itulah yang menyebabkan engkau disebut sebagai calon penghuni surga.”
Hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dan Nasa'i juga dalam Ihya Ulumuddin Al Ghazali, diriwayatkan juga oleh Al Bazzar dan dishahihkan oleh Al Iraqi sesuai syarat penshahihan Bukhari dan Muslim.

Senin, 15 November 2010

puasa Tarwiyah dan Arafah

Puasa Arafah hukumnya sunnah, yaitu dilakukan oleh orang yang tidak berhaji ketika jama’ah haji wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Rasululloh SAW bersabda :“Berpuasa pada hari Arafah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.”(HR. Muslim).

Juga disunnahkan puasa sembilah hari, dimulai tanggal satu sampai sembilan Dzulhijjah.

Dari Hunaidah bin Kholid dari isterinya, dari sebagian isteri-isteri Rasululloh SAW, dia berkata: “Adalah Rasululloh SAW berpuasa pada sembilan (hari pertama) bulan Dzul Hijjah, hari ‘Asyura (10 Muharram) dan tiga hari setiap bulan.”(HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).

Sedangkan Hari Tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah. Dinamakan hari Tarwiyah karena pada masa dahulu hari itu adalah hari mempersiapkan air untuk dibawa ke Mina. Karena jama’ah haji pada hari ke 10 Dzulhijjah berada di Mina dan pada malam 11, 12 dan 13 Dzulhijjah Mabit (menginap) di Mina.

Dalam keterangan lain Rosululloh pada suatu kesempatan mengatakan (kurang lebih begini maksud redaksinya) ‘seandainya umurku hingga tahun depan maka akan ku genapkan puasanya menjadi 2 hari tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah...’ namun hal itu tidak terlaksana.

Hal itulah yang menjadi dasar sebagian umat Islam melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah, sebagian lain hanya Arafah nya saja, dan sebagian lain lagi tidak berpuasa...hal itu tidak perlu diberdebatkan.

(ilmu secuil ini mungkin tidak cukup untuk anda fahami...anda perlu mencari sumber2 lain)





Cari Blog Ini